Desa Madu yang Tidak Semanis Madu

BULOH Seuma, Kecamatan Trumon, merupakan daerah madu lebah alami. Produksi madu daerah di pesisir Samudera Hindia itu jumlahnya mencapai 10 ton per tahun. Madu alam dari daerah itu merupakan madu terbaik di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Madu itu bahkan telah di ekspor ke berbagai negara. Namun, kehidupan 834 penduduk yang mendiami pesisir Samudera Hindia itu masih saja memprihatinkan.

Madu tak bisa mengangkat harkat ratusan kepala keluarga di daerah bekas “kerajaan” Trumon itu. Mereka masih diselimuti kemiskinan, keterbelakangan di bidang pendidikan dan kesehatan. Tidak sedikit anak-anak petani desa terisolasi itu yang tidak melanjutkan studinya ke bangku SMP. Di Buloh Seuma hanya ada satu bangunan SD plus SMP satu atap yang merupakan bangunan semipermanen. “Sampai saat ini kami tidak melanjutkan pendidikan ke SMA karena sekolahnya tidak ada,” kata warga setempat, Muhammad Abduh.

Di desa yang berjarak sekitar 40 kilometer dari Keude Trumon itu juga hanya berdiri sebuah posyandu yang terkadang tidak ada petugasnya, katanya. Rakyat Buloh Seuma juga masih terisolasi dan terbelakang akibat belum adanya jalan darat yang menghubungkan ke pusat kecamatan di Keude Trumon.

Untuk menuju ke permukiman Buloh Seuma hanya dapat ditempuh melalui jalur laut dengan waktu tempuh dua sampai tiga jam dari ibu kota Kecamatan Trumon. “Buloh Seuma masih bagian dari Pulau Sumatera, tetapi akibat tidak ada jalan, warga terpaksa menggunakan transportasi laut untuk mengangkut madu, hasil pertanian dan perkebunan, serta kebutuhan hidup,” kata Direktur Institut Social of Development Study Kabupaten Aceh Selatan Teuku Masrizal.

Menurut dia, jalan darat sangat penting untuk membebaskan keterisolasian masyarakat di desa-desa penghasil madu alam itu. Tidak sedikit pula anak usia sekolah tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi akibat keterbatasan ekonomi. “Di Buloh Seuma hanya ada sekolah dasar dan sekolah menengah pertama satu atap dan satu unit posyandu,” tutur Masrizal.

Tokoh muda Aceh Selatan itu menjelaskan, jika musim barat (ombak besar) transportasi laut dari ibu kota Kecamatan Keude Trumon ke Buloh Seuma dan sebaliknya akan lumpuh total sehingga masyarakat sering mengalami kehabisan bahan pokok. “Pasokan beras dan kebutuhan pokok pada musim barat sering terhenti, jadi tidak heran apabila sistem barter masih berlaku di daerah itu, bahkan tidak sedikit warga yang mengomsumsi singkong dan ketela selama musim barat berlangsung,” ujarnya.

Kawasan margasatwa

Sejak 1991 hingga 2008 Pemerintah Provinsi NAD, Pemkab Aceh Selatan, serta Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh dan Nias memang telah berupaya membebaskan masyarakat Buloh Seuma dari keterisolasian dengan cara membangun jalan darat yang menghubungkan Keude Trumon dengan Buloh Seuma sepanjang 34,4 Km.

BRR Aceh dan Nias telah mengalokasikan dana pada tahun anggaran 2007 senilai Rp 5,2 miliar dan Pemda NAD juga mengalokasikan dana dalam APDP 2008 sebesar Rp 7 miliar untuk proyek peningkatan ruas jalan Keude Trumon-Buluh Seuma, tetapi proyek tersebut terkendala akibat adanya surat pemberhentian kegiatan yang dikeluarkan Menteri Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi NAD.

Menhut dan BKSDA mengklaim, dari 34,4 km rencana pembangunan jalan itu, 3,8 di antaranya berada dalam kawasan konservasi dan suaka margasatwa Rawa Singkil yang dikhawatirkan akan berdampak buruk terhadap kelestarian satwa dan lingkungan. Anggota DPRK Aceh Selatan T Mudasir yang didukung 19 lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang tergabung dalam Simpul Elemen Masyarakat Sipil Aceh Selatan (SELAT) menentang surat Menhut No S.261/Menhut-IV/2006 tentang Penghentian Pembukaan Jalan di SM Rawa Singkil dan surat BKSDA NAD No S.459/IV-K.1/PPNS/2007 tentang Pembangunan Jalan Trumon-Buloh Seuma.

Menurut Mudasir, badan jalan dari Keude Trumon-Buloh Seuma telah ada semasa penjajahan Belanda dan pernah dilakukan peningkatan oleh Pemerintah Aceh Selatan pada 1991. “Akibat konflik bersenjata 1998 hingga 2005 jalan itu tidak pernah dilalui sehingga badan jalan tersebut ditutupi kembali oleh pohon dan ilalang.

“Jalan yang akan ditingkatkan itu sudah ada jauh sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia, sementara suaka margasatwa Rawa Singkil ditetapkan dalam keputusan Menhut Nomor 166/Kpts-II/1998 tanggal 26 Februari 1998,” katanya.

Perjuangan untuk membebaskan warga Buloh Seuma dari keterisolasian terus dilakukan oleh Pemda NAD, Pemkab dan DPRK serta LSM di Aceh Selatan, hingga akhirnya pada 16 Juli 2008 Departemen Kehutanan (Dephut) Republik Indonesia melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) menyetujui pembangunan ruas jalan tersebut.

“Untuk membebaskan masyarakat di Kemukiman Buloh Seuma itu, Dephut menyetujui pembangunannya apabila ruas jalan yang tumpang tindih dengan suaka margasatwa rawa singkil digeser keluar dari kawasan lindung,” kata Dirjen PHKA, Darori.

Bupati Aceh Selatan Tgk Husin Yusuf berharap dengan dikeluarkanya izin berarti kehidupan masyarakat Buloh Seuma akan segera berubah, Ia berharap Dinas Bina Marga Provinsi NAD segera merealisasikan pembangunan jalan Trumon-Buloh Seuma demi meningkatkan  pembangunan dan kesejahteran didaerah terpencil itu.

  • Penulis: EDJ
  • Sumber : Ant

sumber : http://m.kompas.com

2 Balasan ke Desa Madu yang Tidak Semanis Madu

  1. meti_memet mengatakan:

    Asskum Eri Herma…
    saya adlah penghuni di Aceh Seltan juga,tp,,,
    tepat di TApaktuan..
    dan saya baru membaca dan mendengar kata2 pulau di Aceh Selatan ada nama nya Pulau Seuma…
    tlong di muat dunk profil Pulau Seuma di Blog Eri

    • kerinduankupadamu mengatakan:

      ia secepatnya saya akan mencoba menulis artikel tentang buloh seuma…. maaf bukan pulau seuma tapi yang benar adalah “buloh seuma”….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: